efek salju

Minggu, 23 April 2017

Contoh Kasus Data Forgery




1. Peretasan Sony Pictures Entertainment


        Peretasan terhadap Sony Pictures Entertainment terjadi pada 24 November 2014. Hari itu para karyawan perusahaan perfilman itu menemukan kejutan aneh: sebuah gambar tengkorak warna merah muncul di komputer-komputer mereka. 

Bersama dengan itu, tampil juga pesan bahwa ada rahasia perusahaan yang akan dibocorkan. Email perusahaan pun ditutup, akses VPN bahkan Wifi dipadamkan seiring tim admin IT mereka berusaha memerangi penyusup itu.



Pesan hacker yang meretas Sony Pictures(Kaspersky)



Selanjutnya terjadi kehebohan besar. Kelompok peretas yang mengaku sebagai Guardian of Peace (GoP) pun menyebarkan lebih dari 40GB data rahasia perusahaan tersebut. 

Di antara data yang bocor itu termasuk data medis karyawan, gaji, tinjauan kinerja, bayaran untuk para selebriti, nomor jaminan sosial, serta salinan beberapa film yang belum dirilis.

Ada dugaan bahwa peretasan ini masih akan berbuntut panjang. Para peretas mengklaim ada total 100 TB data yang berhasil mereka curi, termasuk seluruh database email. Data 40GB yang sudah dibocorkan, hanyalah bagian kecil dari itu.

Terkait peretasan ini, Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa pelakunya adalah Korea Utara. Namun tuduhan itu dibantah. Bahkan negeri komunis itu sempat menawarkan kerjasama untuk menyelidiki pelakunya.


2. Peretasan Akun Instagram Toko Online Nyonya Bateeq


Nasib nahas dialami oleh pemilik akun Nyonya Bateeq di Instagram. Pada 2 Mei 2017, dia harus kehilangan akun jualan online produk kebaya dan batik khusus perempuan, yang dirintis sejak Agustus 2015, karena username dan password-nya dicuri oleh penjahat siber. Belum diketahui secara pasti bagaimana si penjahat siber bisa mencuri akun toko online itu. Tapi, si pemilik asli akun Nyonya Bateeq, menduga, semua ini bermula dari aksi pengelabuan lewat tautan (link) dalam sebuah pesan order. Beberapa hari sebelum akun diretas, salah satu pengelola akun Nyonya Bateeq menerima pesan order di Line yang menyertakan sebuah link untuk menuju ke sebuah produk yang dipesan si calon pembeli. Begitu link itu diklik, admin Nyonya Bateeq tidak mendapatkan informasi lebih lanjut soal produk yang dipesan oleh si calon pembeli. Admin Nyonya Bateeq kemudian membalas pesan si calon pembeli. Dia berkata link tersebut tidak bisa dibuka. Si calon pembeli kembali mengirim link tersebut. Begini kira-kira pesan order beserta link pengelabuan yang dikirim si penjahat siber kepada admin Nyonya Bateeq.




Penipuan di Instagram (BUKAN COVER)
Teknik phishing untuk curi akun media sosial. (Foto: Istimewa)

Dari pengamatan kumparan (kumparan.com), pesan order itu nampaknya adalah sebuah teknik pengelabuan untuk mencuri username dan password akun Instagram. "Jadi, beberapa hari lalu, ada orang yang kirim chat untuk order suatu barang. Terus, pas link itu diklik, link itu tidak memberi informasi apapun. Saya curiga si peretas memakai teknik phising untuk mencuri username dan password," kata Mahramah Ara, anak dari Yetty Fatimawati selaku pemilik akun
asli Nyonya Bateeq.


Beberapa hari setelah menerima pesan itu, Yetty dan anak-anaknya yang mengelola akun Nyonya Bateeq, tak lagi bisa mengakses akun tersebut. Mereka memantau sampai hari Rabu (10/5), akun Nyonya Bateeq yang seharusnya memakai username @nyonyabateeq, telah diganti oleh si peretas dengan username @nyonyabateeq01. Kontak yang terpampang di akun itu telah diubah, menjadi kontak akun Line yang dibuat oleh si peretas untuk melakukan tipu-tipu terhadap pelanggan Nyonya Bateeq.

Komplain Sudah Transfer, tapi Barang Belum Dikirim

Para pengelola asli Nyonya Bateeq kemudian kedatangan sejumlah komplain dari pembeli yang mengatakan mereka telah mentransfer sejumlah uang, tetapi sampai beberapa hari berselang, tidak ada respons dari penjual dan barang yang dibeli tak kunjung sampai di tujuan. Mereka yang mengadu adalah para pembeli yang sebelumnya sudah pernah bertransaksi dengan pengelola asli Nyonya Bateeq. Sebelum makin banyak korban, Yetty dan anak-anaknya kemudian bergerak menyebar informasi ke orang-orang yang pernah jadi pelanggannya, soal peretasan akun Nyonya Bateeq di Instagram ini. "Kami mendapat banyak komplain dari pembeli yang bilang sudah transfer uang, tetapi barang belum sampai. Kami enggak mau ini terus terjadi," kata Ara kepada kumparan, Rabu (10/5). Upaya untuk menghentikan penipuan juga telah dilakukan para pengelola asli, dengan cara memberi komentar di sejumlah posting foto akun Nyonya Bateeq di Instagram. Namun, si penjahat siber dengan segera menutup komentar sehingga tidak ada sama sekali komentar yang muncul di publikasi.
Para pengelola asli Nyonya Bateeq telah melaporkan kasus ini ke aparat kepolisian karena ini telah merusak nama baik. Mereka juga telah melaporkan aksi peretasan akun kepada Instagram dan tentu saja ada harapan besar agar akun tersebut kembali karena bisnis toko online tersebut telah dirintis sejak Agustus 2015.



Instagram
Instagram. (Foto: USA-Reiseblogger via Pixabay (Public Domain))
    Identitas pasti si peretas sejauh ini belum diketahui secara pasti, termasuk apakah mereka beroperasi secara individu atau berkelompok. Namun, Ara mengatakan bahwa ada individu pelaku yang memakai nama Ahmat Baidowi dengan nomor rekening Bank Mandiri 1420015580508. Identitas itu diketahui pengelola asli Nyonya Bateeq setelah mereka melakukan negosiasi di layanan pesan Instagram, untuk mengambilalih lagi akun Nyonya Bateeq, namun si peretas meminta sejumlah uang dengan cara transfer bank. Kepada para pemilik akun toko online di Instagram, waspadalah dengan teknik pengelabuan semacam ini, jangan sampai menjadi Nyonya Bateeq berikutnya.










1 komentar: